Rektor Universitas Moestopo, Prof. Dr. H. Paiman Raharjo, M.Si., M.M., Menjelaskan bila Transformasi Digital sangat Berperan dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan di bidang Teknologi

Dody Zuhdi
0

 





JAKARTA - Saat ini transformasi digital telah menjadi kekuatan pendorong di balik perubahan mendalam dalam segala aspek kehidupan kita. Dari cara kita bekerja, berkomunikasi, hingga berinteraksi dengan dunia sekitar, transformasi ini telah mengubah landasan dari kehidupan kita. 


Masa depan pun saat ini terlihat semakin dipengaruhi oleh teknologi yang terus berkembang, dan transformasi digital menjadi landasan utama untuk perubahan yang terus berlangsung.


 


Hal itulah yang disoroti oleh The 5th International Conference and Community Development (ICCD). Seminar internasional yang digelar oleh Konsorsium 5 Perguruan Tinggi yakni Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Universitas Budi Luhur, Universitas Bina Nusantara, Universitas Mercu Buana, dan Universitas Sahid Jakarta. 


Rektor Universitas Moestopo, Prof. Dr. H. Paiman Raharjo, M.Si., M.M., Menjelaskan bila Transformasi Digital sangat Berperan dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan di bidang Teknologi yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.


"Transformasi digital bukan hanya sekedar inovasi tetapi juga kebutuhan untuk mengatasi tantangan kompleks yang dihadapi masyarakat kita," cetus Prof. Paiman.


Transformasi digital tidak hanya mencakup penggunaan teknologi dalam industri, tetapi juga merambah ke setiap aspek kehidupan sehari-hari. Dalam dunia bisnis, penggunaan teknologi telah mempercepat proses, mengurangi biaya, dan memungkinkan adopsi model bisnis baru yang lebih inovatif. 


Sementara di sektor pendidikan, transformasi digital membawa metode pembelajaran yang lebih interaktif dan terbuka, memungkinkan akses ke sumber daya yang sebelumnya sulit dijangkau.


Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Budi Arie Setiadi, S.Sos., M.Si memaparkan jika saat ini Indonesia memang tengah melakukan transformasi. Bahkan saat ini sudah ada Indonesia Digital Vision (VID 2045) yang melibatkan 50 stakeholders termasuk berbagai kementerian dan lembaga hingga berbagai komunitas dan perusahaan teknologi global.


"Indonesia Digital Vision ini memiliki misi untuk mendesain dan mengembangkan kebijakan di sektor digital," kata Menteri Budi Arie Setiadi.


"Kita juga memiliki National Digital Transformation Index yang dirangkum dari 110 indikator dengan melibatkan 20 kementerian dan lembaga serta 486 lembaga regional. Indeks ini mengumpulkan data perkembangan transformasi digital dari berbagai aspek termasuk dari sektor infrastruktur, pemerintahan, ekonomi, sosial, dan ekosistem digital," paparnya.


Keseluruhan langkah yang dilakukan itu sangat penting karena transformasi digital tidak hanya tentang adopsi teknologi, tetapi juga tentang mengubah cara kita berpikir, bekerja, dan berinteraksi. 


Inovasi yang didorong oleh teknologi telah memaksa perubahan dalam budaya organisasi, memunculkan kolaborasi yang lebih terbuka, respons yang lebih cepat terhadap perubahan, dan pemikiran yang lebih kreatif. 


Kebutuhan akan pemikiran yang adaptif dan keterampilan teknologi telah menjadi semakin penting, tidak hanya dalam dunia bisnis, tetapi dalam hampir setiap industri.


Karena itulah, peran akademisi menjadi penting. Konferensi ini bisa menjadi pembuka jalan diskusi karena melibatkan akademisi-akademisi dari berbagai negara. Konferensi yang kali ini digelar di Universitas Moestopo tersebut mengundang Dr. Marissa Chantamas, M.Sc. yang merupakan Dean Albert Laurence School of Communication Arts Assumption University of Thailand; Dr. Sonali Agarwal yang merupakan Associate Professor Information Technology Department of the Indian Institute of Information Technology Allahabad, Prayag'raj, India.


Tak hanya itu, hadir pula Prof. Dato' Dr. Hasnah Hj. Haron, dari Faculty of Economics and Muamalat Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), Malaysia; dan Malliga Marimuthu, Ph.D, dari La Trobe Business School, La Trobe University, Melbourne, Australia.


Kehadiran akademisi-akademisi internasional itu sangatlah penting untuk membuka dialog antarakademisi. Sebab meskipun transformasi digital menawarkan sejumlah besar peluang, ada pula tantangan yang harus diatasi. Di antaranya adalah masalah keamanan data, ketimpangan akses terhadap teknologi, dan adaptasi terhadap perubahan yang cepat. Namun, jika ditangani dengan bijaksana, transformasi digital menjanjikan masa depan yang lebih efisien, inklusif, dan terhubung secara global.


"Konferensi ini bertujuan untuk mengeksplorasi solusi inovatif yang memanfaatkan kekuatan digitalisasi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengatasi tantangan kontemporer," lugas Ketua The 5th International Conference and Community Development (ICCD), Dr. Elis Teti Rusmiati, M.Hum., M.Si. (rilis/DOD)

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)